Jumat, 31 Juli 2015

sepenggal cerita ku

Entah mengapa semakin bertambahnya umurku semakin rindu diri ku kepada wanita paruh baya yang ku sebut "Mama"..
Terkadang setiap hari aku menelfonnya kadang juga tak pernah ku menelfonnya.. Kadang dia menelfon tak terangkat oleh ku, kadang juga dia di telfon tak mengankat...
Hingga pagi ini ku teringat akan dirinya yang mengatakan kakinya tengah sakit, ku coba untuk menyanyakan kabarnya kembali...
"Assalamualaikum ma..." ku berikan salam terhangatku padanya meski via telefon
"Waalaikumsalam nak, kenapa dek?" tanya suara letih setengah sesak itu pada ku, ingin rasanya langsung menangis ku padanya mendengar nada suara itu, nada suara yang kian hari kian lemah saja ku rasa
"Ngga ada apa-apa ma, cuma mau tanya gimana keadaan mama? kakinya udah baikan?" tanyaku sambil menahan airmata
"Oooh Alhamdulillah udah rada mendingan, kan kemarin udah di kusuk sama mama Eben sayang. Adek udah masuk kuliah nak?" ucapnya padaku, lega namun ingin rasanya ku tetap menjerit dan menumpahkan tangisan ku padanya..
"Alhamdulillah kalau gitu ma, adek belum masuk kuliah ma. kenapa ma?"
"Adek pulang aja lah nak, mama sepi dirumah kayak orang bego sendirian" pintanya padaku, rasanya saat itu juga ingin  ku langsung beranjak dari ranjangku untuk langsung pergi mendatanginya
"Loh kenapa gitu ma? Memang mama gak ada kerjaan lain gitu? Kan bisa mama kumpul di kantor sama temen-temen mama" ucapku karna ku tahu tak mungkin saat ini langsung datang, urusan kuliah ku belum ku selesaikan. aku harus melihat daftar nilai dan hal lain di rumah ini.
"Mama paling cuma beresin rumah habis itu nonton Tv, kalau nggak jahit baju kalau waktunya solat ya mama solat habis itu ngaji. kalau pun ke kantor ya paling kalau di telfon temen mama, kan nggak ada kerjaan mama di kantor dek" jawabnya panjang dengan suara rintih.
Ya Allah aku tahu apa yang kini di rasakan oleh Ibu ku, dia rindu karna kesepian itu. ketika ayah pergi bekerja, sedangkan dia adalah pegawai non-job hanya stay di rumah dengan ketidak biasaannya. Air mata ini mulai menetes ya Rabb, dia ibuku, wanita yang dulu super sibuk sampai jarang ku lihat wajahnya di rumah karna harus bekerja dari pagi sampai malam dan harus dinas diluar kota, kini kesepian tanpa teman bicara di rumah itu.
"Yaudah ma, in syaa Allah minggu depan adek pulang ya ma.." jawab ku setelah ku dengarkan segala keluhnya yang sebenarnya rindu akan teman bicara
"Alhamdulillah, mama tunggu ya dek.. biar kita jalan-jalan, mama juga suntuk dirumah aja gak tau lagi mau ngerjain apaan kalau rumah udah beres"
"Iya ma, yaudah ya mama banyakin istirahat aja jangan capek kali.." pintaku padanya
"Iya dek, Assalamualaikum sayang.."
"Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh ma.." jawab ku dengan nada hampir tercekik karna menahan tangis yang tak mampu ku bendung.

Note::
Sahabatku ingatlah, ibu di masa tuanya tidak membutuhkan hartamu, tahtamu, ataupun istanamu..
Yang dibutuhkan ibu hanya waktumu dan dirimu, itu saja cukup. Mengapa?
Dia merasa sepi tanpa teman bicara, disaat semua orang sibuk tapi dia tidak.
Dia rindu akan anaknya yang selalu membutuhkan nasihatnya, tempat berbagi cerita keluh kesahnya.
Coba sisihkan waktumu untuknya, sekedar menelfonnya pun jadilah asal rindunya dapat terobati...
Sudahkah kalian berbicara dengan ibu kalian??

Rindu itu...


Seorang ibu tak meminta emas di masa tuanya
Ibu juga tak meminta berlian, mahkota ataupun Istana
Beliau hanya meminta sebuah perhatian dirindukan oleh anaknya
Beliau tak butuh belas iba hanya perhatian saja cukup

Masa tuanya bukan lambang egoisnya yang meminta segalanya
Hanya saja ia merasa sepi karna tak ada teman bicara
Ditinggal pergi sang pujaan hati dan belahan jiwanya perlahan tapi pasti
Bukan mudah dapat diterima begitu saja

Bayangkan pengorbanannya terhadap sang belahan jiwa untuk seluruh waktunya
Apakah ia pernah mengeluh? Pernahkah ia menyesal?
Kini di masa tuanya ia hanya butuh sedikit waktumu untuk bersamanya
Sekedar bersenda gurau untuk menghibur sepinya

Dahulu ketika sang belahan jiwa menangis karna tak ada yang temani
Ibu rela meninggalkan pekerjaannya demi menemani mu
Tapi kini ketika waktu dibalik terhadapmu
Ingat pun jarang pada beliau konon lagi merindukannya

Sementara ibu hanya berharap pada Allah untuk menjaga belahan jiwanya
Hanya mampu memandang foto berharap rindu kan sirna
Bercerita sendiri pada foto itu tentang bagaimana bahagianya dunianya ketika hadirmu
Menitihkan airmata perlahan di pipinya yang keriput

Sambil memegang dada yang sakit karna batuk tak kunjung sembuh
Membersihkan setiap foto dengan tubuh yang renta
Duduk dibpojok ruangan sambil berkhayal masa lalu dengan sang belahan jiwa
Berharap tetiba datang satu per satu menghapus rindunya

Tapi sayang hingga akhir hayatnya tak kunjung ada belahan jiwa nya yang mengerti
Kalian hanya menangis di depan jenazahnya tanpa tahu perih hatinya
Rindu itu membunuhnya perlahan tapi pasti
Ia menyusun sendiri kepingan rindu itu hingga berbentuk nafas yang mencekik

Kini setelah kepergiannya kalian baru mengunjunginya di pusara makamnya
Menangis tersedu mengatakan rindu dan ingin bertemu
Seolah kalian mengerti arti rindu seperti apa itu
Sementara beliau hanya mampu menatap dari jauh

Memeluk pun tak mampu apalagi bertemu dengan si belahan jiwa
Ibu lebih mengerti arti rindu yang sebenarnya
Karna rindu itu yang menyebabkan dia bertahan meski dalam sepi

Semuanya itu demi...

Ma, demi sebuah gelar di nama ku ini,
Aku rela untuk pergi pagi pulang malam..
Aku rela kejar tayang dengan tugas yang bertubi-tubi di hadapkan

Demi sebuah gelar ini saja ma...
Karena setiap kali aku ingin mengeluh untuk gelar itu,
Aku teringat akan peluh keringat Mama-Ayah demi mencari rezeki

Aku teringat pada setiap usaha yang kalian coba untuk mendapatkan semua barang ini,
Barang yang akan membantuku mendapatkan gelar ini ma..
Setiap aku ingin menyerah pada gelar ini ma,
Aku terbayang bahwa letihku tak seberapa dibangding letih kalian disana..

Masa depan ku dan kalian ada pada perjuangan ku ini kan ma?
Tumpuan hari bahagia di depan ada pada jerih payah saat ini kan ma, yah?
Aku ingin sekali mengadu pada kalian ma betapa lemahnya daya juangku,
Tugas-tugas yang tak seberapa ini membuatku menjadi lemah dari yang ku bayangkan...

Setiap kali ku ingin berlari tapi selalu saja terhenti dan menangis ku pada nasib..
Kemudian aku pasti tersadar bahwa hanya yang kuat yang berhasil melawan nasib..

Mudah sekali ku liha mereka bahagia tanpa berfikir panjang,
Tapi tak mudah untuk ku melakukan seperti mereka ma..
Menghamburkan uang, menghabiskan waktu dengan bersenang-senang..

Tapi pada kenyataannya aku harus menghadapi tugas-tugas dari kuliah dikampus sampai dirumah pun harus menghadapi tugas juga ma..
Kadang ketika ku saksikan sinetron laga itu, inign ku teriaki para sutradara itu,
Bertanya pada mereka pernahkah mengalami kuliah ini lantas apakah sama dengan tayangan itu?

Sekali saja ma dalam hidup ini aku ingin menjadi orang yang acuh..
Tak memperdulikan segalanya dan tetap hidup tenang..
Tapi ku berfikir kembali bagaimana dengan dirimu?

Apakah pernah sekali kau merasakan senang sepertiku yang bisa bebas memilih hidup?
Dari dulu ku dengar perjalanan hidupmu mencari nafkah saja,
Pergi pagi pulang larut malam demi sesuap nasi dan seberkas rezeki masa depan

Ingin sekali ku percepat gelar ini ma, yah..
Agar aku juga bisa membantu menghapus keringat di dahi kalian
Tapi apa daya? semangat ini juga mulai melemah,
Hanya kalian satu-satunya tonggak penegak untuk gelar ku ini

Tunggulah sebentar lagi Ma-Yah..
Gelar ini akan tercantum pada namaku dan mengangkat derajat sosial kalian selamanya

Salam anakmu yang ingin berbakti